Cara Setting Routing Dasar di Mikrotik: Panduan Lengkap untuk Pemula dan Profesional
Di era konektivitas digital yang masif ini, perangkat jaringan seperti Mikrotik RouterOS telah menjadi tulang punggung infrastruktur internet, baik untuk skala rumahan, bisnis kecil, hingga Internet Service Provider (ISP). Namun, jantung dari setiap jaringan yang berfungsi adalah kemampuan untuk mengarahkan lalu lintas data—sebuah proses yang kita kenal sebagai routing mikrotik.
Tanpa konfigurasi routing yang tepat, paket data Anda akan tersesat di tengah jalan, membuat jaringan lokal (LAN) tidak dapat berkomunikasi dengan dunia luar (WAN), atau bahkan antar subnet di dalam jaringan Anda sendiri. Bagi pemula, konsep routing terkadang terasa menakutkan, tetapi sebenarnya setting routing dasar di Mikrotik adalah proses yang logis dan mudah dikuasai.
Artikel ini hadir sebagai panduan mendalam dan komprehensif. Kami akan memecah tuntas konsep routing mikrotik mulai dari definisi dasar, langkah-langkah konfigurasi statik melalui CLI dan WinBox, hingga tips troubleshooting yang biasa dihadapi profesional. Setelah membaca panduan ini, Anda tidak hanya bisa melakukan setting dasar, tetapi juga memahami mengapa konfigurasi tersebut bekerja.
Memahami Konsep Dasar Routing Mikrotik
Sebelum kita menyentuh konfigurasi, penting untuk memahami apa itu routing. Secara sederhana, routing adalah proses memilih jalur terbaik bagi paket data dari sumber ke tujuan. Mikrotik melakukan ini dengan merujuk pada "Routing Table" atau Tabel Routing.
Komponen Kunci dalam Tabel Routing
- Destination Address (Dst. Address): Alamat jaringan tujuan yang ingin dicapai (misalnya,
0.0.0.0/0untuk semua jaringan luar, atau192.168.5.0/24untuk subnet spesifik). - Gateway: Alamat IP hop berikutnya (router terdekat) yang akan meneruskan paket data ke tujuannya. Ini adalah "pintu keluar" Anda.
- Interface: Port fisik atau virtual (misalnya, ether1 atau bridge) tempat paket data akan dikeluarkan.
- Distance (Jarak): Nilai numerik yang digunakan oleh router untuk membandingkan rute yang berbeda menuju tujuan yang sama. Rute dengan nilai distance terkecil dianggap sebagai rute terbaik dan akan digunakan. Nilai distance default untuk rute statik adalah 1.
Tipe-Tipe Routing yang Perlu Diketahui
Mikrotik mendukung berbagai jenis routing. Untuk setting dasar, kita akan fokus pada dua tipe utama:
- Connected (Rute Otomatis): Rute ini otomatis ditambahkan ke tabel routing Mikrotik ketika Anda memberikan alamat IP pada salah satu interface. Rute ini menunjukkan jaringan yang terhubung langsung (directly connected) ke router. Anda tidak perlu mengkonfigurasinya secara manual.
- Static Routing (Rute Statik): Rute yang dikonfigurasi secara manual oleh administrator. Ini adalah cara paling umum dan paling dasar untuk mengarahkan lalu lintas data, terutama untuk menentukan Default Gateway (jalur menuju internet).
- Dynamic Routing (Rute Dinamis): Protokol seperti OSPF, BGP, atau RIP. Router akan bertukar informasi rute secara otomatis dengan router lain. Ini biasanya digunakan dalam jaringan skala besar yang kompleks.
Persiapan Sebelum Melakukan Konfigurasi Routing
Pastikan Anda telah melakukan langkah-langkah dasar berikut:
- Router Mikrotik sudah di-reset atau dikonfigurasi ulang (opsional, tapi disarankan untuk instalasi baru).
- Semua interface (misalnya WAN dan LAN) sudah diberikan alamat IP yang sesuai.
- Anda dapat mengakses router, baik melalui WinBox atau SSH/Telnet (CLI).
Asumsi Topologi Sederhana yang Akan Kita Gunakan:
- Interface WAN (terhubung ke modem/ISP):
ether1 - IP Router Mikrotik (di ether1):
192.168.1.2/24 - Gateway ISP:
192.168.1.1 - Interface LAN:
bridge-lan - Jaringan Lokal (LAN):
192.168.88.0/24
Tutorial Inti: Setting Default Gateway Menggunakan Routing Statik
Langkah paling krusial dalam setting routing mikrotik dasar adalah menambahkan Default Gateway. Ini adalah rute yang memberitahu router: "Jika paket data bertujuan ke alamat manapun yang tidak ada di Tabel Routing lokal, kirimkan paket itu ke Gateway ini."
Rute ini dilambangkan dengan 0.0.0.0/0, yang berarti "semua jaringan."
Metode 1: Menggunakan WinBox (Graphical User Interface)
- Buka aplikasi WinBox dan sambungkan ke router Mikrotik Anda.
- Pilih menu IP > Routes.
- Klik tombol Add (+) untuk membuat rute baru.
- Pada kolom Dst. Address, isi
0.0.0.0/0. - Pada kolom Gateway, isi alamat IP Gateway ISP Anda (misalnya,
192.168.1.1). - Pastikan Check Gateway diset ke ping (ini opsional, tapi berguna untuk mengecek ketersediaan gateway).
- Klik Apply dan OK.
Setelah diterapkan, perhatikan kolom Status pada tabel routing. Jika rute berhasil ditambahkan dan Gateway dapat dijangkau, status akan menunjukkan active dan static (misalnya AS).
Metode 2: Menggunakan Command Line Interface (CLI)
Bagi profesional yang menyukai kecepatan dan otomatisasi, CLI adalah cara yang efisien. Masuk melalui SSH atau Terminal WinBox:
# Menambahkan rute default
/ip route add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=192.168.1.1 comment="Default_Gateway_ISP"
# Verifikasi rute
/ip route print
Jika output dari /ip route print menunjukkan rute 0.0.0.0/0 dengan status A S (Active Static), maka konfigurasi routing dasar Anda sukses. Mikrotik kini tahu ke mana harus mengirimkan semua paket yang menuju internet.
Setting Routing untuk Subnet Spesifik (Non-Default Routing)
Dalam skenario jaringan yang lebih kompleks (misalnya, menghubungkan dua kantor atau dua lokasi yang berbeda melalui VPN atau koneksi PTP), Mikrotik perlu tahu bagaimana cara mencapai subnet yang tidak terhubung langsung.
Misalnya, Anda memiliki Jaringan A (192.168.88.0/24) yang terhubung ke Mikrotik R1, dan Jaringan B (10.0.0.0/24) yang terhubung ke Mikrotik R2. R1 harus tahu bahwa untuk mencapai 10.0.0.0/24, ia harus melalui R2.
Asumsi: R2 (Gateway menuju Jaringan B) memiliki IP 192.168.88.10 pada jaringan R1.
Konfigurasi Rute Khusus di R1 (Menggunakan CLI):
# Dst. Address: Jaringan tujuan (10.0.0.0/24)
# Gateway: IP hop berikutnya (192.168.88.10)
/ip route add dst-address=10.0.0.0/24 gateway=192.168.88.10 comment="Route_to_Network_B"
Peran routing mikrotik di sini sangat jelas: paket yang bertujuan ke 10.0.0.0/24 akan diarahkan melalui 192.168.88.10. Tanpa rute statik ini, paket akan mengikuti Default Gateway dan berakhir di internet, bukan di Jaringan B.
Policy Based Routing (PBR) dan Mark Routing
Ketika jaringan Anda berkembang, Anda mungkin memerlukan manajemen routing yang lebih cerdas. Di sinilah Policy Based Routing (PBR) dan Mark Routing memainkan peran penting. PBR memungkinkan kita mengarahkan paket data berdasarkan kriteria selain hanya alamat tujuan, seperti IP sumber, port, atau protokol.
Langkah-langkah Dasar Penggunaan Mark Routing (Untuk Dual WAN Sederhana)
Bayangkan Anda memiliki dua koneksi internet (ISP1 dan ISP2) dan Anda ingin pengguna dari Subnet A (192.168.88.0/24) selalu menggunakan ISP1, sementara pengguna Subnet B (192.168.99.0/24) selalu menggunakan ISP2.
Langkah 1: Menandai Koneksi (Mangle)
# Menandai koneksi dari Subnet A
/ip firewall mangle add chain=prerouting src-address=192.168.88.0/24 action=mark-routing new-routing-mark=route-ISP1 passthrough=no
Langkah 2: Menambahkan Rute dengan Mark
Buat dua rute statik default (0.0.0.0/0), tetapi setiap rute harus diikatkan ke routing-mark yang sesuai.
# Rute untuk trafik Subnet A (ke Gateway ISP1: 192.168.1.1)
/ip route add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=192.168.1.1 routing-mark=route-ISP1 comment="Route_SubnetA_via_ISP1"
# Rute untuk trafik lainnya (ke Gateway ISP2: 172.16.1.1)
/ip route add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=172.16.1.1 distance=1 comment="Main_Default_Route_ISP2"
Dengan konfigurasi ini, paket data dari Subnet A akan dipaksa mengikuti rute yang ditandai route-ISP1, mengabaikan rute default utama (ISP2). Ini adalah contoh yang kuat betapa fleksibelnya routing mikrotik saat dikombinasikan dengan fitur Firewall Mangle.
Analisis dan Pemecahan Masalah (Troubleshooting Routing Mikrotik)
Seringkali, rute yang sudah kita tambahkan tidak bekerja sebagaimana mestinya. Troubleshooting dimulai dari pengecekan tabel routing dan konektivitas.
1. Memeriksa Status Rute
Selalu cek status rute menggunakan perintah print. Pastikan statusnya A S (Active Static) atau A C (Active Connected).
/ip route print
Jika Anda melihat status X, artinya rute tersebut dinonaktifkan. Jika statusnya D (Dynamic), artinya rute tersebut berasal dari protokol routing dinamis (misalnya OSPF).
2. Gateway Unreachable (Gagal Jangkau Gateway)
Jika rute statik Anda menunjukkan status unreachable, ini biasanya disebabkan oleh:
- IP Gateway yang Anda masukkan salah.
- Interface yang mengarah ke Gateway belum terkonfigurasi IP, atau IP-nya salah.
- Kabel fisik terputus antara Mikrotik dan Gateway hop berikutnya.
Solusi: Lakukan ping ke IP Gateway dari Mikrotik (/ping 192.168.1.1). Jika ping gagal, periksa lagi konfigurasi IP pada interface WAN Anda.
3. Kesalahan Mask Jaringan
Saat membuat rute khusus, pastikan Anda menggunakan mask jaringan yang benar (misalnya /24 atau /30). Kesalahan mask dapat membuat rute aktif tetapi tidak pernah digunakan karena Mikrotik menganggap alamat tujuannya berada di subnet yang salah.
Kesalahan Umum Saat Setting Routing Mikrotik
Meskipun routing mikrotik dasar terlihat sederhana, beberapa kesalahan sering dilakukan oleh pemula:
- Lupa Firewall NAT: Routing hanya menentukan jalur paket. Agar perangkat LAN dapat mengakses internet, paket harus melewati proses NAT (Network Address Translation) di firewall untuk mengubah IP lokal menjadi IP Publik. Rute tanpa NAT adalah rute yang mati!
- Redundansi Rute (Jarak/Distance Sama): Jika Anda memiliki dua rute statik menuju tujuan yang sama dengan distance yang sama, Mikrotik akan melakukan Equal Cost Multi Path (ECMP), yaitu membagi lalu lintas. Ini bagus untuk Load Balancing, tetapi jika Anda hanya ingin Failover, pastikan rute cadangan memiliki distance yang lebih tinggi (misalnya
distance=2). - Menggunakan Interface, Bukan Gateway: Dalam beberapa kasus (terutama PTP), Anda mungkin bisa menggunakan nama Interface alih-alih IP Gateway. Namun, untuk rute statik standar, selalu disarankan menggunakan IP Gateway untuk memastikan router melakukan pencarian ARP (Address Resolution Protocol) yang benar.
FAQ (Frequently Asked Questions) Mengenai Routing Mikrotik
Q: Apa bedanya "distance" dan "metric" di Mikrotik?
A: Secara konsep, keduanya sering digunakan bergantian. Di Mikrotik, Distance adalah nilai yang digunakan Mikrotik untuk menentukan rute terbaik ketika ada beberapa rute menuju tujuan yang sama (rute dengan distance terendah menang). Metric sering merujuk pada metrik spesifik yang digunakan oleh protokol routing dinamis (seperti OSPF atau RIP) untuk menghitung biaya rute, tetapi distance adalah istilah yang lebih umum digunakan untuk membandingkan rute statik dan dinamis di tabel routing utama.
Q: Apakah rute yang ditambahkan perlu di-save secara manual?
A: Tidak. Setiap perubahan konfigurasi yang Anda lakukan di Mikrotik (baik melalui WinBox, CLI, maupun WebFig) langsung tersimpan dalam memori permanen (NVRAM). Anda tidak perlu menjalankan perintah "save" terpisah seperti pada beberapa vendor router lain, kecuali Anda menggunakan fitur Safe Mode.
Q: Bagaimana cara menghapus rute yang salah?
A: Pertama, cari ID rute yang ingin dihapus menggunakan /ip route print. Misalnya, jika ID-nya adalah 0:
/ip route remove 0
Q: Mengapa saya tidak bisa mengakses internet padahal Default Gateway sudah aktif?
A: Ini adalah masalah yang paling umum. Routing hanya memberikan jalur keluar. Masalahnya hampir selalu terletak pada tiga hal:
- NAT Masquerade Hilang: Anda belum membuat aturan NAT di
/ip firewall nat. - Firewall Filter: Ada aturan filter yang memblokir trafik forward.
- DNS Error: Trafik berjalan, tetapi browser tidak dapat menerjemahkan nama domain (DNS) dengan benar.
Kesimpulan: Kunci Sukses Routing Mikrotik
Menguasai routing mikrotik adalah keterampilan fundamental bagi setiap administrator jaringan. Routing dasar, khususnya rute statik dan penentuan Default Gateway, adalah fondasi di mana semua konfigurasi jaringan yang lebih kompleks dibangun.
Ingatlah bahwa setiap paket data di jaringan Anda harus memiliki jalur yang jelas dan pasti menuju tujuannya. Dengan memahami komponen Dst. Address, Gateway, dan Distance, Anda memiliki kontrol penuh atas lalu lintas jaringan. Praktikkan konfigurasi ini di lab virtual atau perangkat Mikrotik sungguhan Anda. Semakin sering Anda berinteraksi dengan tabel routing, semakin intuitif proses ini bagi Anda, membuka jalan untuk implementasi fitur-fitur lanjutan seperti OSPF, BGP, dan Failover Multi-WAN yang kompleks.