Cara Setting Routing Dasar di Mikrotik: Panduan Lengkap untuk Jaringan Stabil
Mikrotik RouterOS adalah salah satu sistem operasi jaringan yang paling fleksibel dan andal di pasar. Namun, kekuatan utama Mikrotik terletak pada kemampuannya mengelola lalu lintas data secara efisien. Inti dari manajemen lalu lintas ini adalah routing mikrotik. Tanpa konfigurasi routing yang tepat, data Anda tidak akan tahu ke mana harus pergi, dan jaringan Anda akan terisolasi.
Artikel ini dibuat sebagai panduan komprehensif, ditujukan bagi administrator jaringan pemula hingga menengah, yang ingin menguasai teknik setting routing dasar di Mikrotik. Kami akan membahas mulai dari konsep dasar Static Routing, tutorial langkah-demi-langkah menggunakan CLI, hingga tips menghindari kesalahan umum. Mari kita pastikan setiap paket data di jaringan Anda sampai ke tujuan dengan sempurna!
Memahami Konsep Dasar Routing di Mikrotik
Secara sederhana, routing adalah proses penentuan jalur (path determination) yang harus dilalui oleh paket data dari sumber ke tujuan. Ketika sebuah paket tiba di router Mikrotik, router melihat alamat IP tujuan dan membandingkannya dengan Routing Table (Tabel Perutean) yang dimilikinya. Berdasarkan tabel tersebut, router memutuskan ke mana paket harus diteruskan.
Ada dua jenis utama routing yang perlu Anda ketahui dalam konteks Mikrotik:
1. Connected Routes (Rute Terhubung Langsung)
Ini adalah rute yang secara otomatis ditambahkan oleh Mikrotik ketika Anda memberikan alamat IP pada sebuah interface (misalnya ether2). Router tahu bahwa jaringan yang terhubung ke interface tersebut dapat dijangkau secara langsung tanpa perlu melalui router lain. Dalam tabel routing, rute ini ditandai dengan flag DAC (Dynamic, Active, Connected).
2. Static Routes (Rute Statis)
Rute statis adalah rute yang dikonfigurasi secara manual oleh administrator. Ini adalah metode yang paling umum dan termudah untuk routing mikrotik dasar. Static routing ideal digunakan pada jaringan kecil hingga menengah atau ketika Anda perlu mengontrol jalur tertentu secara eksplisit. Router akan selalu mengikuti jalur yang Anda tentukan, terlepas dari kondisi jaringan, kecuali jalur tersebut mati.
3. Dynamic Routes (Rute Dinamis)
Untuk jaringan yang sangat besar dan kompleks, Mikrotik dapat menggunakan protokol routing dinamis seperti OSPF, BGP, atau RIP. Router akan bertukar informasi rute dengan router lain secara otomatis. Walaupun ini lebih efisien untuk skala besar, konfigurasi dasarnya selalu dimulai dengan pemahaman Static Routing.
Anatomi Static Route Mikrotik
Untuk menambahkan rute statis, Anda perlu mendefinisikan setidaknya dua parameter kunci:
- Dst. Address (Destination Address): Alamat jaringan tujuan yang ingin Anda jangkau. Ini harus selalu dalam format CIDR (misalnya,
192.168.10.0/24). Jika tujuannya adalah "seluruh internet," Anda menggunakan Default Route (0.0.0.0/0). - Gateway: Alamat IP dari router "hop selanjutnya" (next hop) yang akan menerima paket dan membawanya lebih dekat ke tujuan. Gateway harus merupakan IP yang dapat dijangkau langsung oleh Mikrotik Anda.
Penting: Default Route (0.0.0.0/0)
Setiap router di jaringan Anda harus memiliki satu rute default. Rute ini memberitahu router: "Jika tujuan paket tidak cocok dengan rute lain manapun di tabel ini, kirimkan paket itu ke Gateway X." Inilah cara Mikrotik terhubung ke internet.
Prasyarat Sebelum Konfigurasi Routing Mikrotik
Sebelum kita terjun ke baris perintah, pastikan prasyarat berikut terpenuhi:
- Akses ke Router: Anda memiliki akses administratif ke Mikrotik (melalui WinBox, WebFig, atau SSH/Telnet).
- IP Address Terpasang: Semua interface yang terlibat dalam proses routing (interface WAN dan interface LAN/DMZ) sudah memiliki alamat IP yang benar.
- Konektivitas Fisik: Kabel sudah terpasang dan interface menunjukkan status
link-up.
Untuk memastikan IP sudah terpasang, cek melalui CLI:
/ip address print
Tutorial Langkah-demi-Langkah: Setting Routing Dasar ke Internet
Skenario paling umum dan dasar adalah memberikan akses internet kepada jaringan lokal melalui Mikrotik. Anggaplah Mikrotik Anda adalah R1.
Skenario Jaringan Dasar:
- IP Gateway Internet/ISP:
103.25.10.1(terhubung ke ether1) - IP Mikrotik (WAN/ether1):
103.25.10.2/30 - IP Jaringan Lokal (LAN/ether2):
192.168.88.1/24
Langkah 1: Menambahkan Default Route (Akses Internet)
Tujuan kita adalah memberitahu Mikrotik R1 bahwa semua lalu lintas yang ditujukan ke luar (ke internet) harus dikirimkan ke IP Gateway ISP (103.25.10.1).
/ip route
add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=103.25.10.1 comment="Rute Default ke Internet"
Penjelasan Kode:
dst-address=0.0.0.0/0: Artinya, rute ini mencakup semua alamat IP yang tidak didefinisikan secara spesifik di tabel routing lainnya.gateway=103.25.10.1: Alamat IP dari router ISP yang menjadi pintu keluar jaringan.
Langkah 2: Verifikasi Tabel Routing
Setelah Anda menambahkan rute, cek tabel routing untuk memastikannya aktif (flag A S: Active, Static) dan dapat dijangkau (reachable).
/ip route print
Output yang berhasil akan terlihat kurang lebih seperti ini (perhatikan baris rute 0.0.0.0/0):
Flags: X - disabled, I - invalid, D - dynamic, J - rejected,
C - connect, S - static, r - rip, o - ospf, b - bgp, H - active,
* - backup, p - periodic, e - ecmp, M - mme, U - unreachable
# DST-ADDRESS GATEWAY DISTANCE
0 ADS 0.0.0.0/0 103.25.10.1 1
1 ADC 103.25.10.0/30 ether1 0
2 ADC 192.168.88.0/24 ether2 0
Baris 0 ADS (Active, Dynamic, Static) menunjukkan bahwa rute default Anda sudah berfungsi dan Mikrotik siap meneruskan paket keluar.
Implementasi Advanced: Static Routing Antar Jaringan Lokal
Dalam jaringan yang lebih besar, mungkin ada lebih dari satu router (R1 dan R2) yang mengelola segmen LAN yang berbeda. Untuk membuat kedua jaringan LAN ini bisa saling berkomunikasi, kita membutuhkan rute statis kedua.
Skenario Routing Antar Router (R1 dan R2):
- R1 LAN (A):
192.168.88.0/24 - R2 LAN (B):
172.16.1.0/24 - Interkoneksi R1-R2:
10.10.10.0/30
Agar pengguna di R1 (Jaringan A) dapat menjangkau Jaringan B (172.16.1.0/24), kita harus memberitahu R1 bahwa untuk sampai ke Jaringan B, ia harus melalui R2.
Konfigurasi di Router R1:
R1 perlu rute untuk mencapai 172.16.1.0/24, yang gateway-nya adalah IP interkoneksi R2 (misalnya 10.10.10.2).
/ip route
add dst-address=172.16.1.0/24 gateway=10.10.10.2 comment="Akses ke LAN B"
Konfigurasi di Router R2:
Sebaliknya, R2 juga harus tahu cara kembali ke Jaringan A (192.168.88.0/24). Gateway-nya adalah IP interkoneksi R1 (misalnya 10.10.10.1).
/ip route
add dst-address=192.168.88.0/24 gateway=10.10.10.1 comment="Akses ke LAN A"
Pentingnya Rute Balik (Return Route): Jika Anda hanya mengatur rute di R1, paket akan berhasil dikirim ke R2, tetapi R2 tidak tahu cara mengirim balasan kembali ke R1. Ingatlah: routing harus bekerja dua arah!
Atribut Penting Routing Mikrotik yang Harus Diketahui
Ketika melakukan routing mikrotik, ada beberapa atribut tambahan yang memberikan kontrol lebih pada administrator:
1. Distance (Jarak)
Distance (Jarak administratif) adalah metrik yang digunakan Mikrotik untuk menentukan rute mana yang harus diprioritaskan jika ada lebih dari satu rute menuju tujuan yang sama. Nilai yang lebih kecil menunjukkan rute yang lebih disukai.
- Connected Routes memiliki Distance 0.
- Static Routes standar memiliki Distance 1 (jika gateway-nya adalah IP) atau 10 (jika gateway-nya adalah interface).
- Dynamic Routes memiliki Distance bervariasi (misalnya OSPF=110, BGP=20).
Jika Anda memiliki dua Default Route, router akan menggunakan yang memiliki Distance terendah.
2. Check Gateway
Fitur ini memastikan bahwa gateway yang ditentukan masih hidup dan dapat merespons. Jika gateway mati, rute tersebut akan dinonaktifkan secara otomatis (menjadi U - Unreachable atau I - Invalid) hingga gateway hidup kembali. Ini sangat penting untuk implementasi failover (cadangan jalur).
Tiga opsi check-gateway:
none(Default): Router hanya mengandalkan status link fisik interface.ping: Router secara berkala mengirimkan ping ke alamat gateway. Jika gagal, rute dinonaktifkan.arp: Router memeriksa entri ARP untuk alamat gateway.
Contoh penambahan rute dengan check-gateway=ping:
/ip route
add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=103.25.10.1 check-gateway=ping distance=1 comment="WAN Utama"
Implementasi Failover Routing (Basic Redundancy)
Salah satu penggunaan paling praktis dari Distance adalah untuk membuat jalur cadangan (failover). Misalkan Anda memiliki dua koneksi internet (WAN1 dan WAN2).
- WAN1 Gateway:
103.25.10.1 - WAN2 Gateway:
200.50.1.1
Konfigurasi Failover:
Langkah 1: Tetapkan WAN Utama (Distance Rendah)
/ip route
add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=103.25.10.1 distance=1 check-gateway=ping comment="Rute Primer"
Langkah 2: Tetapkan WAN Cadangan (Distance Tinggi)
Karena rute ini memiliki distance 5, Mikrotik akan mengabaikannya selama rute primer (distance 1) aktif.
/ip route
add dst-address=0.0.0.0/0 gateway=200.50.1.1 distance=5 check-gateway=ping comment="Rute Sekunder/Cadangan"
Cara Kerja: Selama 103.25.10.1 merespons ping, Mikrotik hanya menggunakan rute dengan distance 1. Jika gateway tersebut mati (dan check-gateway=ping mendeteksinya), rute pertama akan dinonaktifkan (flag U), dan Mikrotik secara otomatis akan mengaktifkan rute terdekat berikutnya, yaitu rute dengan distance 5 (WAN2).
Kesalahan Umum dalam Setting Routing Mikrotik
Bahkan para profesional terkadang melakukan kesalahan saat mengatur routing mikrotik. Berikut adalah beberapa masalah umum dan cara mengatasinya:
1. Hilangnya Rute Balik (Asymmetric Routing)
Masalah: Paket bisa mencapai tujuan, tapi balasan tidak bisa kembali. Ini sering terjadi pada skenario multi-router (R1-R2) karena administrator lupa menambahkan rute balik.
Solusi: Selalu pastikan rute ditambahkan di kedua arah. Lakukan traceroute dari kedua sisi untuk melihat di mana jalur terputus.
2. Gateway Tidak Dapat Dijangkau (Unreachable Gateway)
Masalah: Setelah menambahkan rute, statusnya muncul sebagai U (Unreachable).
Penyebab: Alamat IP Gateway yang Anda masukkan tidak berada dalam subnet yang sama dengan IP interface Mikrotik Anda, atau tidak ada koneksi fisik.
Solusi: Periksa konfigurasi IP pada interface dan pastikan Anda dapat /ping alamat gateway dari Mikrotik itu sendiri.
3. Rute Bertabrakan (Conflict)
Masalah: Anda memiliki dua rute statis yang tujuannya sama, dan Mikrotik tidak memilih yang Anda inginkan.
Solusi: Ingat prinsip pemilihan rute: Best match first, then lowest distance. Rute yang memiliki prefix yang lebih spesifik (misalnya 192.168.1.0/24 lebih spesifik daripada 0.0.0.0/0) selalu diutamakan. Jika spesifikasinya sama, Mikrotik memilih berdasarkan nilai Distance terendah.
4. Melupakan Masquerade (NAT)
Masalah: Routing ke internet sudah benar, tetapi perangkat LAN tetap tidak bisa browsing.
Penyebab: Perangkat LAN berhasil mencapai Mikrotik, tetapi Mikrotik tidak mengubah IP Sumber paket (NAT/Masquerade) sebelum mengirimnya ke internet. ISP tidak tahu cara mengembalikan paket ke IP privat (192.168.88.x).
Solusi: Pastikan Anda mengaktifkan NAT/Masquerade pada interface WAN.
/ip firewall nat
add chain=srcnat action=masquerade out-interface=ether1 comment="NAT ke Internet"
FAQ (Frequently Asked Questions) Tentang Routing Mikrotik
Apa perbedaan antara Distance 1 dan Distance 0 pada routing mikrotik?
Distance 0 (nol) hanya berlaku untuk rute yang secara otomatis ditambahkan (Connected Routes) karena jaringan tersebut terhubung langsung ke salah satu interface Mikrotik. Static Routes yang menggunakan IP sebagai gateway akan memiliki Distance 1 secara default. Jika Anda menggunakan interface sebagai gateway (tanpa IP Next-Hop), distance-nya menjadi 10. Distance nol selalu yang paling diutamakan.
Bagaimana cara menghapus rute yang salah di Mikrotik?
Anda dapat melihat daftar rute dengan /ip route print. Setiap rute memiliki nomor urut (#). Gunakan nomor tersebut untuk menghapus rute:
/ip route remove 0
(Angka 0 adalah contoh, ganti dengan nomor urut rute yang ingin Anda hapus).
Kapan saya harus menggunakan Dynamic Routing (OSPF/BGP) daripada Static Routing?
Static Routing efisien dan aman untuk jaringan kecil (kurang dari 5 router) dan di mana topologi jaringan jarang berubah. Dynamic Routing sangat disarankan jika Anda memiliki topologi jaringan yang kompleks, banyak jalur cadangan, atau Anda terhubung ke banyak ISP (membutuhkan BGP) atau memiliki lebih dari 10 router yang saling terhubung (membutuhkan OSPF) karena pengelolaan rute dilakukan secara otomatis.
Kesimpulan
Pengaturan routing mikrotik dasar, terutama Static Routing, adalah fondasi dari setiap jaringan yang stabil dan efisien. Dengan menguasai konsep Destination Address, Gateway, dan memahami peran penting Distance dan Check Gateway, Anda dapat memastikan bahwa lalu lintas data di jaringan Anda bergerak sesuai jalur yang optimal dan andal.
Ingatlah bahwa suksesnya routing terletak pada detail: memastikan rute balik ada, menggunakan check-gateway untuk redundansi, dan selalu memverifikasi tabel routing setelah setiap perubahan. Mikrotik menawarkan fleksibilitas luar biasa; gunakan alat CLI dan WinBox yang tersedia untuk membangun infrastruktur jaringan yang kokoh dan siap menghadapi tantangan lalu lintas data modern.